Fuad Hasan

Hidup adalah perjalan yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dan bila kamu ingin agar hidup berjalan seperti apa yang kamu idam-idamkan maka kamupun harus berjalan bersama hidup itu sendiri

Monday, November 13, 2006

Hidup Tanpa Hidup

Hidup akan kita jalani mungkin sebagian orang menganggapnya sebuah jembatan menuju kehiduoan abadi tapi melalaikan untuk merenovasi dan memperindah jembatan tersebut namun jangan sampai membuat kita lupa untuk meneruskan perjalanan karena tergoda jembatan tersebut, ingat bila jembatan itu terus diperindah, maka semakin lama keropos yang ada dalang tulang belulangnya akan menjadi-jadi membuat kita terpaksa melewatinya tanpa ada persiapan yang matang dan kemubungkinan terbesar adalah hidup terkatung-katung diantara hidup dan hidup

Tuesday, September 26, 2006

SEDETIK YANG LALU

SEDETIK YANG LALU
HATI KITA MASIH MENYATU
RAGAKU MASIH MILIKMU
BEGITUPUN DIRIMU
SEDETIK YANG LALU
MIMPI KITA MASIH SATU
INGIN TETAP MELAYANG JAUH
TERUS MENERUS TANPA LEPAS SAUH
SEDETIK YANG LALU
KU MASIH MENCUMBU
DAN TERUS MENCIUM BIBIRMU
HINGGA MENTARI TAK BERBEKAS
KINI………
SEDETIK ITU TELAH BERLALU
YANG TERTINGGAL HANYA BAYANGMU
YANG TAK MUNGKIN LAGI TERAIH

MENTARIKU

Kulantunkan kata kata pujangga

Pada matahari yang mulai terbenam

Yang menyinari awan putih

Dengan sinarnya yang mulai senja

Kurangkaikan bait-bait indah

Pada bintang di langit hitam

Yang dengan kerlip mungilnya

Dengan setia mendampingi dewi malam

Kuhaturkan rasa terima kasih

Pada khayangan di atas sana

Yang telah menciptakan dewa amor

Dengan segala cinta dan kehangatan

dan kupersembahkan sebuah cinta

pada engkau sang mentari

yag dengan tangan terbuka

menerimaku apa adanya

MALAM

Malamku kini sudah gelap

Yang terlihat hanya kaca hitam

Bulanpun kini terlindung

Oleh awan hitam

Namun kubahagia

Karena disudut ufuk sana

Ada sebuah bintang kecil

Yang mengerlip pada hatiku

MAAFKAN AKU………

Hanya itu kata yang mampu aku keluarkan dan ingin terucap oleh bibir keluku yang dahulu tak henti-hentinya untuk mengecup namamu lewat bibir-bibir puisi yang melantun indah dalam damainya angin syurga yang menghantarkan melodi yang kini tinggal gesekan.

Tak ada lagi sebaris kata indah, tak ada lagi sebait puisi romatis yang mampu aku ucapkan dengan bibir pucatku dalam lantunan melodi biola rindu untuk ungkapkan rasa bersalahku terhadap engkau dewi pagiku.

Malam yang terlalu indah untuk dilupakan hanya dalam kejapan mata dan kerlingan alis namun terlalu menyiksa bila terus teringat dalam otak beku seorang pujangga yang sampai saat ini hanya menjadi segumpal daging yang menyuarakan kata-kata picisan walau dalam derasnya hujan malam yang dengan setianya menemani sebuah bayang gelap diantara lorong-lorong waktu yang semakin lama semakin jauh seolah bersembunyi dibalik dinding keraton sang raja angkuh.

Wahai sang dewi, haruskah aku meninggalkanmu karena kesalahanku itu, bila iya, akan kuhempaskan seluruh raga, jiwa serta auraku dengan sekuat tenaga dari dunia khayangan dan khayalan ini ke bumi yang penuh tanah membusuk dan lumpur-lumpur biru yang menghisap semua kenangan indah serta rasa bahagia yang telah berabad tersimpan dan terkunci rapat-rapat dalam sanubari kecil nan mungilku.

Mungkin juga dengan kesalahan itu, kurelakan tubuhku kau injak-injak dan kau lemparkan kedalam api neraka yang membakar semua rindu dan asmara yang telah kita lalui bersama dalam sebuah kesemuan yang tak nyata namun mampu menghalangi jalan kita berdua.

Sekali lagi akan kuucapkan kata-kata maaf yang tertulis rapi dalam sebuah kertas buram ini dan akan kucoba untuk mengirimkannya padamu lewat pos jiwa yang trus berjaga.

DIA

Mentari perlahan mulai menghilang dibalik jendelaku. Awan yang tadinya berwarna jingga kini dengan perlahan pula menjadi kelabu dan akhirnya tak meninggalkan sisa-sisa putih ditubuhnya. Saat itu aku tak tahu apakah mentari itu tenggelam dalam keabadian atau hanya sementara, namun harapan yang terus ada dalam benakku tak menginginkan ia terus menghilang, aku ingin dia kembali saat fajar mulai terlihat.

Tapi sebagian dalam diriku tak menginginkan siang yang berkepanjangan karena malam tak henti-hentinya menciptakan keindahan dibalik kegelapannya yang samar-samar.

Saat mentari tenggelam tanpa tersadar olehku bulan sudah mengintip dari balik pintuku dengan cahaya lembutnya menyentuh pergelangan tanganku, dan sesaat kemudian bintang dengan malu-malu mulai menghadiri pertemuan itu dan mulai meramaikan malam yang tadinya beralaskan hitam dan beatapkan gelap.

Malam itu mungkin bagi insan adalah sebuah persinggahan seorang pengembara dari perjalanan panjang yang menyuguhkan keindahan dunia dibalik tirai gelapnya namun bagiku malam adalah sebuah persembahan dari pujangga yang dengan rangkaian katanya dapat menyuguhkan melodi-melodi syahdu dalam alunan dawai harpa sang maestro cinta.

Malam yang sangat susah untuk terlupakan dalam otak semua makhluk dibumi karena malam itu merupakan persembahan termanis yang pernah ia berikan pada pada jagad raya, namun bila terus teringat, batin ini seakan-akan mau menghanurkan diri sendiri ini dalam ledakan-ledakan mautnya yang mungmin mengandung dinamit-dinamit berkekuatan benci dan amarah yang terangkum dengan sempurna dalam kitab sang maestro tersebut.

Saat itu, saat bulan mulai bermain bersama kerlip bintang di kegelapan sana, diantara tirai-tirai awan hitam yang semakin lama semakin berkumpul menghalangi permainan mereka. Saat itu pula aku bersandar dalam kebekuan yang menampar rusuk-rusuk ini dengan sesuka hati, jiwaku dengan paksa tega meninggalkan raga hampa dan hambar ini. Pergi terbang melayang entah kemana, mungkin ke alam surga tak berpenghuni atau entah kemana, aku tak mau perduli. Mataku dengan nanar memandang kearah timur dan tak sengaja mataku menangkap sekelebat bayangan tak jelas yang bergerak diantara galaunya hatiku dan diantara jejak-jejak malam.

MAAFKAN AKU

Saat ku terlelap
Dengan berjuta mimpi indah
Dan mulai membimbingku
Kedalam surga berbunga-bunga

Saat ku terlelap
Di malam yang sudah buta
Akupun trus bermimpi
Tentang melodi syahdu nan merdu

Namun tatkala ku terlelap
Saat mimpi di alam syurga
Saat mendengar melodi syahdu
Dan kicau burung nan merdu

Tiba-tiba ku terjaga
Dikala mimpi membawaku kehadapmu
Seakan syurga menjadi panas
Dan melodipun hanya menjadi sebuah gesekan

Ku teringat dirimu
Wanita pembawa syurga
Pengantar melodi-melodi indah
Yang kubimbing ke neraka

MAAFKAN AKU

KAULAH

KUAKUI
KAULAH YANG TERBAIK
YANG PERNAH MENDAMPINGIKU
MELEWATI HARI-HARI YANG JEMU

KUSADARI
TAKKAN ADA YANG MELEBIHIMU
TAKKAN ADA YANG MENJANGKAUMU
WALAU MENCOBA TERBANG MERAIHMU

TAK AKAN PERNAH KUSESALI
BAHWA KAU PERNAH ADA DIHATIKU
DAN TAK MUNGKIN PULA KUSANGKALI
BAHWA KAU MASIH ADA DIHATIKU

PENCARIAN

Ditengah riak dan hembusan angin kumenatap dalam – dalam dan mencari arti hidup yang penuh dengan teka – teki, lalu menyelusuri segala apa yang tercipta pada konsepsi dan pahamanku
Kala itu kurasakan ada getar yang tercipta oleh kondisi hidup yang kian menampakkan wajah yang kurang akrab dan tak ingin disapa padahal aku hanya ingin mengerti arti dan semua apa yang tercipta itu
Apa memang kehidupan ini penuh dengan kerelativan hingga pada saat aku sadar ternyata semuanya adalah kehampaan yang hingga hari ini melahirkan jiwa yang skeptis, namun aku berharap tidak sedikit yang harus mengerti itu yang nantinya kita paham hidup ini secara antologis dan tidak memandangnya itu adalah sebuah kebenaran yang tidak dipikirkan, kenapa karena terkadang kata orang – orang bahwa kebenaran itu terlampau jauh untuk dikenali apa memang kebenaran itu pengecut ataukah Manusia yang pengecut dan tidak tahu diri bahwa kita ini adalah emanasi dari pancaran sang creator dan kebenaran itu sendiri
Aku kini dihadapkan pada dua pertanyaan tentang eksistensi dan esensi yang terdalam yang menjadi dasar hidup dan semua apa yang ada baik yang terinderai maupun yang kasat mata, dari sini kita berharap bahwa ini bukanlah stigma hidup yang seakan menjerat untuk mendengar ocehan Tuhan yang dengan ke Egoan- Nya menciptakan Adam dan Hawa lalu berafiliasi terhadap cucu – cucunya bahwa ocehan Tuhan tidak akan pernah sama dengan ocehan para pemimpin yang tidak tau apa ocehan itu bernilai tentang kemanusiaan dan sebaliknya

DALAM LELAPKU

Sebelum ku dapat tertidur
Bayangmu selalu menderaku
Dengan sribu ingatan bersalah
Dan ku tak mampu untuk meminta maaf

Sebelum lelap hadir di mataku
Wajahmu selalu menghantui otak kiriku
Menyiksa dan terus mencambukku
Dengan sribu dosa yang telah terjadi

Dalam tidurpun
Mimpi seakan menjadi kiamat
Sebab dalam mimpi
Kaupun hadir menertawaiku

Sribu sesal dan maaf
Kini hanya dapat kuhantarkan
Lewat lagu dan puisi
Yang dihantarkan angin membisikmu

CINTA, RINDU DAN LAINNYA

Cinta……
Mengapa kata itu harus ada
Bila akan tercerai berai
Oleh nafsu dunia

Cinta…..
Kata yang tak aku mengerti
Apakah itu ungkapan perasaan
Atau hanya menjadi sebuah kata

Rindu………..
Orang bilang itu menyenangkan
Tapi mengapa bagiku
Kata itupun berat menindihku

Angan……..
Hanya itu yang kini tertinggal
Setelah cinta menghilang
Rindupun sudah tak bersemayam

Bayangmu pun kini tak teraih
Hanya hitam yang terlihat olehku
Tanpa sudut yang jelas
Tanpa ada yang memperjelas

BARU KUSADARI

Baru kusadari

Kalau aku kehilangan dirimu

Saat kuterbangun dari tidurku

Dan merasakan sebuah sepi

Perempuanku

Setelah kau pergi

Baru tersadar olehku

Kalau kaulah yang terbaik disisi

Maafkanlah aku

Kuingin kembali

Merajut kembali cinta yang dahulu

Yang terkoyak hanya oleh nafsu

Tapi itu tak mungkin terjadi

Kau telah tergandeng lelaki

Yang mungkin terbaik untuk dirimu

Yang mungkin mengalahkanku

Namun satu pintaku padamu

Izinkanlah kuhantarkan kata-kata maafku

Walau hanya lewat puisi yang hambar

Untuk perempuan yang tak hambar

Thursday, September 21, 2006

LIFE IS LIKE THIS

LIFE IS DISGUESTING

A Game 4 teens

Permainan

Mungkin bulan tak semenarik dirimu
dan bintang tak seindah kerlipmu
tapi satu yang tak mungkin kulupa darimu
senyum manismu laksana mentari penyejuk hati

saat tidur dalam lelap
mimpi melayang diatas ubun-ubunku
hanya satu yang menyejukkanku
dirimu yang kini tak lagi mungkin teraih